PARAMETERTODAY, Jakarta โ Inilah tempat Mafia Gas Bersubsidi dalam menjalankan aksi kejahatannya. Di tempat ini dilakukan penyuntikan dan pengoplosan gas dari tabung gas Bersubsidi ke tabung gas non subsidi. Lokasinya berada di bilangan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media ini di lapangan, menyebutkan bahwa, aksi kejahatan Mafia Gas Bersubsidi ini sudah berlangsung cukup lama. Mafia gas bersubsidi ini termasuk salah satu Mafia gas terbesar di wilayah Jakarta.
Menurut penuturan salah seorang Narasumber terpercaya, adapun aksi kejahatan penyuntikan dan pengoplosan gas bersubsidi (3kg) ke gas non subsidi (12-50) ini dilakoni oleh salah seorang oknum berinisial PAR bersama sejumlah orang anak buahnya.
โPenyuntikan gas bersubsidi yang dilakukan oleh Mafia gas ini sudah berlangsung lama di tempat itu. Dalam aksinya, Mafia gas bersubsidi dibantu oleh sejumlah orang. Mafia gas ini merupakan mafia Gas terbesar di wilayah Jakarta,โungkap Narasumber.
Menurutnya, tempat penyuntikan mafia gas sengaja di pilih di lahan tanah kosong dan cukup jauh dari pemukiman warga masyarakat. Dengan maksud, agar aksinya sulit diendus aparat dan tidak menaruh curiga kepada warga.
Lahan tanah kosong dengan luas 200 Meter persegi kata Narasumber, memang sangat tepat untuk aksi penyuntikan dan pengoplosan gas. Karena, dalam waktu bersamaan dapat dilakukan penyuntikan puluhan tabung gas. Aroma bau gas juga bisa dengan cepat tertiup angin. Sehingga, aroma bau gas tidak menjadi perhatian warga.
โLahan tanah kosong dengan luas ratusan meter persegi yang sudah ditutupi dengan pagar seng akan memudahkan proses penyuntikan gas. Bisa menyuntik puluhan gas secara bersamaan. Aroma bau gas yang menyengat selama proses penyuntikan juga tidak bertahan lama. Karena, akan tertiup angin. Karena lahan tanah kosong ini tidak pake atap,โtambah Narasumber.
Lebih lanjut Narasumber menjelaskan, adapun modus operandi yang digunakan oleh para Mafia gas bersubsidi ini dalam aksi kejahatannya adalah, menggunakan alat suntik. Alat ini dijadikan sebagai alat perantara isi gas. Dari tabung gas bersubsidi (3 Kg) ke tabung gas non subsidi (12-50Kg).

Tabung gas diposisikan sejajar. Kemudian, alat suntik di sambungkan di ujung tabung gas 3kg ke tabung gas 12kg atau 50 kg, lalu dilakukan penyuntikan hingga tabung gas non subsidi penuh. Untuk 1 tabung non subsidi (12 kg), dibutuhkan tabung gas besubsidi (3kg) sebanyak 4 tabung. Setelah terisi sesuai ukurannya atau jika sudah penuh, lalu akan dijual ke pelanggan atau konsumen.
Harga gas bersubsidi (3kg) dibadrol, Rp, 18.000. Sementara harga gas non subsidi (12kg) dibadrol Rp, 249.000. Perbedaan harga yang cukup tinggi inilah yang dijadikan “Celah” para Mafia Gas. Tabung gas bersubsidi ukurannya lebih kecil. Sedangkan ukuran tabung gas non subsidi lebih besar.
Jadi, para mafia gas membeli gas bersubsidi (3kg) dan kemudian isinya dipindahkan ke tabung gas non subsidi (12kg). Untuk mengisi hingga penuh 1 tabung gas nonsubsidi (12kg) dibutuhkan 4 tabung gas subsidi atau jika dikalkulasikan kira kira, harga 4 tabung gas subsidi dibadrol Rp, 74.000 dengan rincian harga 1 tabung Rp, 18000.
Sementara harga1 tabung gas non subsidi (12kg) dibadrol seharga, Rp, 249.000. Dengan uang sebanyak, Rp, 74000 para mafia gas sudah bisa mengisi tabung gas nonsubsidi. Jadi Selisih harga antara tabung gas bersubsidi dan non subsidi yang hampir mencapai 3 kali lipat. Selisihnya cukup tinggi antara harga 1 tabung gas bersubsidi dan non subsidi.
Selisih harga gas bersubsidi dengan non subsidi yang cukup tinggi inilah dijadikan sebagai “celah” atau selisih harga inilah yang menjadi motif utama para mafia gas bersubsidi. Untuk memperkaya diri sendiri. Mereka kemudian melakukan pengoplosan dan penyuntikan dari tabung gas bersunsidi (3kg) ke tabung gas non subsidi (12-50kg).
Pantauan media ini di lokasi atau tempat penyuntikan gas bersubsidi ke tabung gas non subsidi pada, Kamis (26/3/2026), ada sebidang lahan dengan luas 200 Meter persegi di lahan tanah kosong yang dijadikan sebagai tempat parkir truk-truk berukuran besar (truk kontainer) dimana sekelilingnya dipagari seng setinggi 2 Meter di bilangan, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.
Tampak juga sejumlah orang di sebuah di samping tempat penyuntikan gas. Seperti bersiap siap di bangku bangku dan meja lesehan. Diduga kuat mereka adalah, pekerja atau karyawan dan kaki-tangan Mafia gas beraubsidi berinisial PAR.
Namun, ketika media ini mengonfirmasi soal tempat atau lahan tanah kosong (200 Meter persegi) yang dipagari seng dekat mereka, Namun, mereka memilih tak banyak bicara dan menjawab tidak tahu menahu.
โKami tidak tahu pak. Kami bukan orang sini. Silahkan bapak tanyakan kepada orang lain saja,โpungkas salah seorang pria yang namanya belum diketahui menjawab pertanyaan terkait tempat penyuntikan dan pengoplosan gas bersubsidi ke tabung gas non subsidi.
Terkait Mafia gas bersubsidi ini, media ini belum mendapatkan konfirmasi dari pihak kepolisian republik indonesia (Polri) dan aparat terkait. Demikian halnya dengan pihak Satuan tugas (Satgas) minyak dan gas serta kementerian Migas.***


