Senin, Agustus 24, 2026
Google search engine
More
    BerandaNusantaraWarga Desa Sihusapi Keluhkan Minimnya Pemeliharaan Infrastruktur Jalan

    Warga Desa Sihusapi Keluhkan Minimnya Pemeliharaan Infrastruktur Jalan

    PARAMETERTODAY.COM, Samosir -Infrastruktur jalan yang menghubungkan Desa Sihusapi dengan Sidaji, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, kembali menjadi sorotan setelah sebelumnya beredar postingan Charles Simarmata di akun media sosial terkait perbaikan jalan menggunakan dana swadaya masyarakat, parametertoday.com melakukan penelusuran langsung ke lapangan pada Minggu (23/8/2026).

    Perjalanan menuju Desa Sihusapi dari Jalan Raya Pangururan-Simanindo masuk melalui wilayah Desa Simarmata. Dari simpang menuju Sihusapi, sekitar dua kilometer pertama kondisi jalan tampak mulus karena telah diaspal.

    Namun, setelah melewati ruas tersebut, kondisi jalan berubah drastis. Sejumlah bagian badan jalan terlihat mengalami kerusakan, mulai dari aspal yang terkelupas, batu-batu yang muncul di permukaan hingga lubang yang tersebar di sepanjang jalan.

    Meski terdapat sejumlah bagian yang masih terlihat baik, kondisi jalan secara umum lebih banyak ditemukan dalam keadaan rusak. Bahkan, sepanjang ruas jalan hingga menuju Gereja Katolik, kondisi jalan yang rusak tampak lebih dominan dibandingkan ruas yang masih mulus.

    Untuk mencapai lokasi jalan yang diperbaiki secara swadaya masyarakat, perjalanan dilanjutkan dari simpang Gereja HKBP melalui jalan penghubung Sihusapi-Sidaji. Kondisi ruas tersebut juga terlihat memprihatinkan. Jalan masih dapat dilalui kendaraan, tetapi permukaannya banyak mengalami pengelupasan aspal dan dipenuhi kerikil.

    Sesampainya di lokasi, terlihat kondisi jalan yang diperbaiki oleh masyarakat pada ruas jalan yang menanjak dengan pengerjaan rabat beton secara swadaya. Karena masih dalam tahap pengeringan, kendaraan terpaksa melintas melalui sisi jalan.

    Di sekitar lokasi juga terlihat satu tiang listrik yang telah roboh.

    Charles Simarmata, masyarakat yang ditemui di lokasi saat hendak beribadah ke gereja, menjelaskan alasan masyarakat memilih memperbaiki jalan menggunakan dana swadaya.

    “Karena ini kebutuhan vital masyarakat Sihusapi, karena belum ada tanggapan dari pemerintah Kabupaten Samosir maka kami dalam keadaan terpaksa demi kebutuhan masyarakat Sihusapi, kami sebagai masyarakat Sihusapi mengadakan swadaya mengumpulkan dana dalam bahasa Batak biar bisa dipakai oleh anak-anak kami, karena di sini disusun satu pusatnya pendidikan keagamaan dan pemerintahan yang dipakai setiap hari. Jadi untuk itu supaya bisa berhubungan langsung ke pemerintahan, kependidikan, keagamaan kami dengan berat hati dengan keadaan terpaksa memperbaiki jalan ini.”

    Menurutnya, kondisi jalan tersebut bukan persoalan baru. Ia menyebut, perbaikan jalan terakhir kali dilakukan sekitar satu dekade lalu.

    “Kondisi jalan sebelumnya pak kurang lebih sepuluh tahun tidak ada perbaikan. Dulu pada waktu Pak Hatorangan menjabat Sekda masih ada perbaikan, tapi sesudah dia pensiun, ganti pemerintahan, pemerintahan Bapak Bupati sekarang ini belum ada perbaikan,” ujarnya.

    Ia mengatakan, pernah ada pekerjaan di bagian ujung jalan, tetapi menurutnya bukan memperbaiki badan jalan secara keseluruhan.

    “Ada pun perbaikan di ujung sana tapi bukan memperbaiki jalan tapi menambah jurang karena temboknya tidak ditimbun,” katanya.

    Ia menjelaskan, pembangunan drainase atau TPT di ruas penghubung Desa Sihusapi dengan Desa Simarmata dinilai belum menyelesaikan persoalan apabila bagian sisi jalan tidak dilakukan penimbunan.

    “Pembangunan tembok penahan tanah itu antara penghubung Desa Sihusapi dengan Desa Simarmata, dibuat tembok itu tinggi tapi tidak ditimbun sama juga bohong. Masyarakat berharap untuk pembangunan tembok itu jika ada dana pemeliharaan supaya diatur itu untuk penimbunan,” katanya.

    Kondisi jalan yang rusak juga disebut telah menimbulkan persoalan bagi masyarakat yang melintas. Charles mengatakan, sejumlah pengendara, termasuk anak-anak dan ibu-ibu yang mengantar anak sekolah, pernah terjatuh di lokasi tersebut.

    “Udah sering, udah sering anak-anak berjatuhan di sini bahkan untuk ibu-ibu pun yang mengantar anak sekolah sering kejadian, karena itulah kami berprinsip makanya kami adakan ini mengumpulkan swadaya untuk memperbaiki jalan ini supaya tidak terjadi untuk menelan korban,” ujarnya.

    Menurutnya, masyarakat telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut melalui pemerintahan desa, kecamatan hingga kabupaten.

    “Untuk pembangunan jalan ini pak, dibilang bosan memang karena sudah sering kami mintakan baik ke pemerintahan desa melalui Musrenbang, kecamatan, ke kabupaten sudah kami sampaikan tapi kami tetap berharap ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Samosir untuk memperbaiki jalan ini,” katanya.

    “Kalau tidak kami minta solusi apakah bisa Dana Desa diletakkan ke sini untuk memperbaiki ini,” sambungnya.

    Dana yang digunakan untuk perbaikan jalan tersebut, kata dia, dikumpulkan dari masyarakat Desa Sihusapi, khususnya Dusun II, Dusun III dan sebagian Dusun I.

    Perbaikan rabat yang dilakukan masyarakat tersebut baru mencapai lebih dari 15 meter. Masyarakat juga berencana melanjutkan perbaikan hingga bagian jalan yang dinilai lebih parah apabila dana swadaya kembali terkumpul.

    “Kalau memang masih ada dana kami kumpulkan nanti rencana kami ada juga lewat jembatan ini nanti yang lebih parah lagi rencana mau dilanjutkan juga kalau ada pengumpulan dana dan ada nanti perhatian pemerintah ke sini kalau memang ada dananya kami masyarakat di sini siap untuk swadaya siap untuk membantu,” ujarnya.

    Sementara itu, Masron Situmorang menyebut pengerjaan rabat jalan sepanjang lebih dari 15 meter tersebut telah menghabiskan dana sekitar Rp6 juta.

    “Kalau ini kurang lebih kemarin habis 6 juta ya, tapi belum, karena ini swadaya ya karena ibaratnya kerjanya gotong royong kalau dihitung ibaratkannya masalah ikut upah dana itu tidak mencukupi,” kata Masron.

    Masron juga menyoroti kondisi jalan menuju Desa Sihusapi yang menurutnya membutuhkan perhatian pemerintah.

    “Yang rusak ini sekarang Desa Sihusapi semua, jadi entah dimana pemerintahan desa ini pun apa memang tidur aja kerjanya tidak bergerak sementara keluhan dari masyarakat selalu dibuat keluhan terutama kepada kepala desa, aparat-aparat desa ini Desa Sihusapi, apa memang orang ini hanya lambang aja di Desa Sihusapi ini apa tidak ada gagasannya ke kabupaten, maka saya minta tolong ini harus dinaikkan ini pak,” katanya.

    Ia berharap pemerintah Kabupaten Samosir segera melakukan perbaikan terhadap jalan tersebut.

    “Kalau saya pingin perubahan bisa diperbaiki jalan kami ini,” ujarnya.

    Masron juga meminta Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom tidak hanya melihat kondisi jalan utama atau jalan protokol, tetapi juga turun melihat kondisi jalan di pelosok desa.

    “Dan kumohon sedikit pagi pak kepada Bupatinya itu pun Bapak Vandiko Gultom itu jangan hanya lintas-lintas itu aja, jangan jalan besar aja ditengok, masuklah ke pelosoknya, inilah pelosoknya terutama di Desa Sihusapi,” katanya.

    Ia bahkan menggambarkan kondisi jalan tersebut lebih sulit dilalui kendaraan dibandingkan menggunakan hewan tunggangan.

    “Kalau di sini lebih baguslah naik pedati kalau naik kendaraan atau kereta akan sangat beresiko ujarnya.

    “Jadi kami berharap sama Bapak Vandiko, datanglah sekali kali ke sini jangan hanya di jalan protokol aja,” sambungnya.

    Masron mempertanyakan kondisi masyarakat yang harus mengumpulkan dana sendiri untuk memperbaiki jalan.

    “Tengoklah warga-warga di sini sampai kayak ginilah masyarakat di sini sampai mengumpulkan dana untuk memperbaiki jalan sendiri. Apa kami itu tidak merdeka, apa kami ini bukan Indonesia,” tegas Masron.

    Ia berharap pemerintah Kabupaten Samosir memberikan perhatian terhadap jalan tersebut dan mengaitkannya dengan kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan dan pertanian.

    “Harapan kami dari masyarakat kepada pemerintah Kabupaten Samosir tolong diperhatikan jalan ini sesuai dengan program Bapak Prabowo, program nawacita mendukung peningkatan kesehatan, pendidikan dan pertanian tolong ditingkatkan jalan ini, tolong. Kami sudah bosan ada kata-kata janji,” katanya.

    “Dan kami sudah buat proposal, permintaan kami sudah sampaikan kepada pemerintah desa, kecamatan dan ke kabupaten setiap Musrenbang bahkan permohonan proposal kepada Tuhan sudah kami sampaikan melalui doa kami, tapi kalau ada alamat kepada Tuhan biar dikabulkan doa kami. Itu harapan kami masyarakat Desa Sihusapi,” ujarnya.

    TPT Rp199 Juta, Sisi Jalan Belum Ditimbun

    Sementara itu, terkait informasi masyarakat mengenai adanya pembangunan pada 2025, khususnya pembangunan TPT di ruas Jalan Sidaji-Sihusapi, parametertoday.com melakukan penelusuran langsung ke lapangan.

    Di lokasi masih terlihat papan proyek pembangunan TPT Jalan Sidaji-Sihusapi dengan nilai kontrak Rp199.916.300, penyedia jasa CV Bintang Sabungan, dengan tanggal kontrak 25 November 2025.

    Pada papan proyek yang masih terpajang tersebut tidak tercantum volume pekerjaan.

    Dari pantauan di lapangan, terlihat pembangunan TPT diperkirakan sepanjang kurang lebih 200 meter. Namun, pada sejumlah bagian sisi jalan tidak terlihat adanya pekerjaan penimbunan setelah pembangunan TPT.

    Kondisi tersebut menyebabkan terdapat bagian yang membentuk jurang atau lubang cukup dalam di antara badan jalan dengan TPT sepanjang ruas pekerjaan.

    Kondisi jalan, pekerjaan swadaya masyarakat serta keberadaan TPT tersebut menjadi bagian dari persoalan infrastruktur yang masih dirasakan masyarakat Desa Sihusapi.

    Hingga berita ini disajikan parametertoday.com masih melakukan penelusuran lebih lanjut terkait status ruas jalan tersebut, kewenangan penanganannya, serta respons Pemerintah Kabupaten Samosir terhadap keluhan dan permintaan masyarakat Desa Sihusapi. (Uji)

    RELATED ARTICLES

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    - Advertisment -
    Google search engine

    Most Popular

    Recent Comments